Sosial Media

(0652) 21019
dlhk3@bandaacehkota.go.id

Sejarah Hutan Kota Penghijauan Hutan

 
Penanaman pohon

Penghijauan di Hutan Kota BNI Banda Aceh dilakukan dengan berhati-hati. Kualitas tanah di lahan yang kurang baik perlu dicermati dan diantisipasi dengan baik. Di sisi lain, sebagai sebuah hutan kota, penanaman pohon dilakukan dengan keanekaragaman yang tinggi. Sebagai satu-satunya hutan kota di Kota Banda Aceh – dan di Provinsi NAD – maka Hutan Kota BNI Banda Aceh juga dituntut untuk dapat mewakili jenis-jenis pohon yang ada di Aceh.

Pentahapan penghijauan menjadi sebuah keharusan agar tingkat kehidupan pohon yang ditanam tetap tinggi. Pada penghijauan hutan budidaya, misalnya, tingkat kematian bibit pohon yang ditanam bisa mencapai 20%. Artinya, dari 100 bibit yang ditanam, 20 bibit kemudian gagal tumbuh. Mengingat kualitas tanah yang kurang mendukung di lahan Hutan Kota BNI Banda Aceh, maka di awal proses penghijauan tingkat kematian pohon diperkirakan akan mencapai 30-40%. Dari hasil survey akhir masa tanam Pembangunan Tahap 1 Hutan Kota BNI Banda Aceh, dari 1960 bibit pohon yang ditanam, tercatat 195 bibit pohon yang mati. Tingkat kematian:  9.99 %.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati dari tingkat kematian pohon ini:

  1. Upaya-upaya untuk menjaga bibit cukup berhasil:
    • Penggalian lubang 1 – 2 minggu sebelum tanam yang kemudian diberi pupuk kandang dicampur pupuk urea;
    • Pemotongan daun-daun di bibit pohon yang baru ditanam, agar metabolisme bibit Penyiraman setiap hari dengan pengawasan ketat di setiap titik tanam;
    • Pemasangan daun kelapa untuk mengurangi kuatnya sinar matahari;
    • Pemupukan 1 bulan setelah penanaman, dibarengi dengan pembersihan area sekitar titik tanam
  2. Beberapa jenis pohon sangat tidak bisa beradaptasi, yaitu Langsat, Durian, Manggis. 
  3. Walaupun tingkat kematian rendah, masih perlu kewaspadaan karena sebagian besar akar pohon belum masuk ke kedalaman tanah yang kemungkinan besar mengandung air payau / asin. Kewaspadaan juga diperlukan karena jenis-jenis pohon yang berbeda beradaptasi dengan kecepatan yang berbeda-beda pula. Beberapa jenis bisa saja beradaptasi dengan baik di awal, namun kemudian tidak bisa tumbuh normal karena kondisi tanah dalam. Penanaman dibagi ke dalam 4 tahap penanaman. Pada tahap 1 ditanam 450 batang bibit  pohon ditambah 166 pohon Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). 

Cara Penanaman

Tes Kualitas Tanah Pra Penanaman Pohon

Cara penanaman bibit-bibit pohon didasarkan pada Tes Tanah terhadap tanah di lahan yang akan dijadikan hutan kota. Tes kualitas tanah dilakukan oleh Laboratorium Penelitian Tanah Universitas Syah Kuala yang dikepalai oleh Ir. H. M. Yusuf Nyakpa, M.Sc. dengan beranggotakan Dr. Ir. Abubakar Karim, M.Si. dan Dr. Ir. Muyassir, MP. 

Rekomendasi Tes Tanah dari Tes Tanah:

  1. Memilih tanaman/tumbuhan yang sesuai dengan iklim (suhu, curah hujan, dan kelembaban)
  2. Perlu dibuat saluran drainase untuk menghindari genangan air pada musim hujan.
  3. Perlu membuat pagar keliling agar tanaman yang ditanam tidak diganggu oleh hewan peliharaan, seperti kambing dan lembu.
  4. Lubang tanam dibuat 1-2 minggu sebelum tanam, ukuran 0.8 m x 1 m x 0.8 m.
  5. Lubang tanam dianjurkan 5 x 5, sedangkan non-kayu (perdu, rumbut, menjalar) disesuaikan berdasarkan luasan.
  6. Sebelum penanaman, tanah dimasukkan kembali ke lubang tanam dicampur bahan organik yang berasal dari kompos atau pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 atau 30-50 kg/lubang tanam. Sebaiknya tanah yang digunakan berupa tanah mineral yang didatangkan dari tempat lain.
  7. Pupuk dasar ditambahkan sesuai dengan kebutuhan.

Penyesuaian terhadap rekomendasi

Dengan tetap mempertimbangan Rekomendasi Tes Kualitas Tanah, beberapa penyesuaian harus dilakukan dalam implementasi penanaman di lapangan. Penyesuaian-penyesuaian tersebut adalah:

  1. Pemilihan beberapa jenis tanaman yang toleran, namun bukan berasal dari habitat serupa lahan, seperti langsat dan mangga. Jenis-jenis ini tidak mayoritas, hanya 40% dari total jenis total. Pemilihan ini dilakukan karena hutan kota ini merupakan kesempatan yang sangat sedikit untuk memperkenalkan sebanyak mungkin jenis tanaman yang ada di Aceh.
  2. Lubang tanam digali sedalam 60 – 80 cm, tergantung lokasi titik tanam, namun tidak sedalam 1 meter seperti direkomendasikan. Pada kedalaman antara 60 – 80 cm penggalian dihentikan ketika menyentuh lumpur air payau.
  3. Jarak tanam 4 meter x 4 meter, bukan seperti rekomendasi 5 meter x 5 meter. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi pohon-pohon yang mati. Bila ternyata semua pohon hidup maka seleksi alam akan memilih tanaman yang hidup
  4. Diameter lubang tanah untuk masing-masing lubang tanam adalah 60 cm.
  5. Sehabis digali dimasukkan pupuk kandang 1 karung (sekitar 5 kg) dicampur dengan 1 sendok kecil urea dan NP.
  6. Lubang dibiarkan terbuka selama 1 – 2 minggu.
  7. Selang 1-2 minggu setelah penggalian tanaman ditanam. Polibag dilepaskan dan bibit tanaman dimasukkan ke dalam lubang yang sudah siap tanam.
  8. Tanah yang digunakan untuk menimbun adalah top soil atau tanah subur yang diambil dari tempat lain. Tanah urug yang tersisa ketika menggali lubang tidak lagi digunakan.
  9. Bibit yang sudah ditanam segera disiram secukupnya. Bila bibit termasuk bibit yang kecil dan karakternya tidak kuat panas, maka perlu diberi perlindungan dari teriknya sinar matahari, misalnya dengan daun pohon kelapa.