Sosial Media

(0652) 21019
dlhk3@bandaacehkota.go.id

Sejarah Hutan Kota Pembuatan Infrastruktur Dasar

 
Pembukaan Jalur Kendaraan Angkut & Siram

Sirkulasi kendaraan berat, seperti truk pengangkut bibit dan tangki air bersih merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting. Frekuensi lalu lalang yang tinggi mengharuskan adanya jalur sirkulasi khusus. Sifat jalur sirkulasi ini tergolong ‘sementara’ karena ketika pohon-pohon sudah cukup dewasa untuk bisa tumbuh sendiri maka jalur ini pun akan menjadi jalur yang ditanami pohon. Pembukaan jalur dilakukan dengan menggunakan alat berat untuk meratakan jalan tanah dan membersihkan bebatuan. Alat berat yang digunakan disewa dari DK3 (Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota) Banda Aceh. 

Pembangunan Tanggul

Pembangunan tanggul harus dilakukan untuk mencegah masuknya air akibat pasang tinggi dari alur air di sisi utara tapak. Pasang tinggi terjadi hanya dalam kurun waktu tertentu dan tidak rutin setiap hari. Namun bila tidak diantisipasi air asin akan masuk ke dalam lahan dan menggenangi tanaman. Bila itu terjadi bisa mematikan pohon yang tergenangi. Tanggul juga dibuat di sekeliling tambak oleh Dinas Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Pemerintah Kota Banda Aceh. Tanggul yang dibangun memiliki panjang 174 meter.  Tinggi tanggul adalah 60 – 80 cm. Struktur tanggul adalah batu alam yang ditutup dengan tanah urug. Setelah ditutup tanah urug tanggul diperkuat dengan pendekatan bio-engineering, yang sesuai dengan konsep Hutan Kota BNI.

Penguatan tanggul dilakukan dengan menanam 3 jenis tanaman:

  1. Janda Merana (Salix babilonica), ditanam karena toleran terhadap air asin dan akarnya yang mengikat tanah.
  2. Panda laut (Pandanus tectorius), ditanam karena akarnya yang dalam, diharapkan memperkuat tanggul dan toleran terhadap air asin.
  3. Tapal Kuda (Ipomoea pes-caprea), tanaman menjalar ini ditanam untuk menjaga tanah permukaan tanggul agar tetap kuat.

Pemagaran 2 Sisi Lahan

Pemagaran batas lahan dilakukan untuk tujuan pengamanan lahan, terutama pengamanan dari hewan ternakyang biasa dilepas bebas tanpa penggembala. Dikhawatirkan ternak sapi yang biasa mencari makan masuk ke dalam lahan dan memakan bibit-bibit pohon yang baru ditanam. Penjagaan terhadap lahan dari manusia dilakukan dengan musyawarah dan persuasi agar masyarakat juga merasa memiliki hutan kota. Masyarakat bebas berlalu lalang di hutan kota untuk mencapai tambak atau sekedar memancing ikan. Pagar dibangun di 3 sisi, yaitu sisi selatan, barat dan timur. Di sisi selatan yang berhubungan dengan jalan utama dibangun pagar dari beton dan kawat berduri setinggi 1,6 meter, dengan jarak kolom 3 meter. Pintu masuk ke lahan juga dari sisi ini. Panjang total sisi pagar ini adalah 110 meter. Sisi barat dan timur dipasang pagar dari kolom kayu dan kawat berduri dengan panjang seperlunya untuk mencegah ternak masuk ke dalam lahan. Sisi-sisi ini tidak dipasang pagar permanen karena pertimbangan Pemerintah Kota Banda Aceh untuk memperluas lahan hutan kota ke sisi-sisi ini.

Saluran Air Hujan

Saluran air hujan dibangun untuk mengalirkan air hujan dari bagian-bagian lahan dan menghindari adanya bagian tergenang. Kondisi tergenang bisa mengakibatkan bibit pohon yang ditanam mati karena akarnya membusuk. Saluran yang dibangun memiliki ukuran penampang lebar 80 cm dengan dalam 60 – 100 cm. Titik tertinggi terletak di sisi selatan dan terendah ke sisi utara lahan, dengan kemiringan 2-5 %. Panjang keseluruhan saluran utama pembuangan air hujan ini adalah 300 meter.  Air yang dibuang bermuara di tambak yang ada di sisi utara tapak. Dari kiri kanan saluran utama dibuat saluran- saluran sekunder yang mengalirkan air menuju saluran utama.  

Kolam penampungan air (detention pond)

Kolam ini dibangun di area yang paling rendah (cekung) di dalam tapak. Dari pengamatan selama pembangunan Tahap 1, disimpulkan bahwa titik tersebut berada di bagian selatan lahan. Fungsi kolam ini adalah menampung air hujan agar volumenya tidak langsung masuk membebani saluran utama. Air hujan yang ditampung juga kemudian dapat digunakan untuk menyiram pohon. Panjang dan lebar kolam mencapai 5 meter, dengan kedalaman di titik terendah mencapai 3 meter. Pada tahap ini kemiringan dasar kolam belum diatur, seharusnya menurun ke arah saluran utama.